Salam hangat

Selamat Datang di Hamdi Taufik. Blog ini merupakan media komunikasi untuk mencari titik taut di antara kebhinekaan yang ada. Dengan pikiran yang jernih lah perbedaan dapat diterima.

Sabtu, 28 Juni 2008

Pilkada NTB 1 di depan mata


Pesta demokrasi semakin dekat di provinsi NTB. Pemilihan kepala daerah secra langsung merupakan hal yang baru pertama kali dilakukan oleh masyarakat NTB. Banyak diramaikan oleh tokoh-tokoh yang sudah dikenal di masyarakat ikut serta dalam pencalonan kepala daerah. Mulai dari tokoh tuan guru sampai dengan tokoh yang sudah lama mengabdi di jajaran pemerintah NTB. Pilkada NTB akan dilaksanakan pada tanggal 7 Juli 2008 ini, jika tidak terjadi halangan sesuai dengan yang telah diagendakan oleh KPU NTB.
Namun yang perlu disorot adalah, kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan oleh masyarakat NTB saat ini? Apakah kepemimpinan yang tradisional yang masih kental dengan kebangsawanan seseorang, kepemimpinan ala pesantren yang tidak jauh dari kepemimpinan kebangsawanan, atau kepemimpinan yang demokratis, yang telah dianggap sebagai gaya kepemimpinan yang ideal atau dianggap modern untuk saat ini?
Namun ketenaran atau ketokohan seseorang tidak atau belum tentu mampu membayar/ menjamin bahwa mereka adalah pemimpin yang akan memimpin dengan baik, Nyatanya, banyak pemimpin yang mendapatkan suara mayoritas dalam pilkada di daerah lain mengecewakan setelah mereka duduk memimpin di kursi kekuasaannya, tidak atau jauh sesuai dengan yang diharapkan seperti yang telah mereka janjiakan ketika berkampanye. Banyak kepala daerah setelah mereka terpilih, ternyata mereka pemimpin yang tidak memiliki kualitas kepemimpinan serta manajerial yang baik. Banyak diantara mereka memiliki kapasitas rendah, mentalitas rendah, dan moralitas rendah. Janji-janji ketika berkampanye hanya tinggal kenangan, dan para pemilihnya hanya bias gigit jari, kehidupan yang layak selama ini mereka harapkan masih jauh dari terwujud, karena pemimpin yang mereka pilih tidak memperjuangkan kehidupan mereka, melainkan sibuk dengan urusan pribadi dan golongannya.
Adanya pemimpin-pemimpin yang serba kurang ini, tentunya tidak akan menjawab persoalan yang ada di lapangan/masyarakat, tidak jarang dari mereka malah membuat sausana menjadi tambah runyam, membuat budaya-budaya yang jauh dari nilai-nilai luhur yang selama ini ada di masyarakat, bukannya membawa kemajuan malah membawa kepada kemunduran. Menengok NTB merupakan daerah yang masih jauh dibawah kualitas daerah lain, misalnya angka kemiskinan yang cukup banyak, peluang kerja yang kurang, pendidikan rendah, busung lapar/ gizi buruk yang melanda anak-anak NTB. Semua ini harus harus dapat dijawab/ dituntaskan oleh kepala daerah yang akan terpilih.
Pemimpin NTB kedepan juga harus mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat di segala sector, terutama bidang pendidikan dan ekonomi. Kepala daerah terpilih juga harus mampu memotivasi masyarakatnya untuk berjuang menuju kehidupa yang lebih baik, yakni kehidupan yang mandiri, dan memiliki jiwa kewirausahaan yang baik, megingat masyarakat NTB masih kental dengan budaya yang mengidolakan PNS sebagai satu-satunya pekerjaan yang paling mulia dan ideal. Hal ini harus dikikis oleh kepala daerah yang akan terpilih, karena akan sangat menghambat daya saing NTB dimasa mendatang. Karna dengan adanya pengusaha-pengusaha baru baik yang berskala besar, menengah, maupun kecil akan menciptakan perekonomian yang ideal dan mandiri, hal ini bida berkaca pada Taiwan, Negara yang memperhatikan usaha kecil menengah sebagai kekuatan ekonominya.
Namun mampukah pilkada yang sudah di depan mata memilih pemimpin yang bisa menjawab semua persoalan NTB dewasa ini? Tulisan ini mengajak kepada masyarakat NTB untuk memilih pemimpin yang dapat membawa NTB menjadi provinsi yang terkemuka di Indonesai, mengingat nama NTB masih asing di telinga masyarakat Indonesia, hal ini dapat dilihat dari peran NTB dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, jarang sekali kita lihat kebudayaan dari NTB yang dipentaskan dalam kegiatan Nasional, misalnya kegiatan Negara dalam memperringati seratus tahun kebangkitan nasional di stadion bung karno Jakarta, tidak ditemukan kebudayaan-kebudayaan yang berbau NTB, atau dalam pelajaran sejarah, kita tidak temukan nama pahlawan yang berasal dari NTB, bahkan lagu dari NTB pun tidak kita temukan dalam buku pelajaran yang berkaitan dengan seni. Hal ini cukup membuat hati menjadi miris, hal yang pantas kita ucapkan adalah ‘Selama ini kamu (NTB) kemana aja?’.
Memilih pemimpin bukan masalah rasa, yang erat kaitannya dengan ikatan emosional yang subyektif, sehingga tidak mampu untuk berfikir cerdas dan kritis terhadap kebutuhan yang harus dijawab. Melainkan dalam memilih kepala daerah kita harus mengedepankan sikap yang kritis dan penuh analisa, sehingga pemmpin yang terpilih nantinya bias membawa kepada perubahan yang dicita-citakan, yakni kepada kehidupan yang lebih baik.
Selamat pilkada…… selamat memilih kepala daerah yang baik yang membawa NTB kepada perubahan yang positif .

Tidak ada komentar: